Buku Centang-centang

Si kembar mendapat buku monitoring dari sekolah. Setiap hari, mereka diharuskan mengisi buku pink bertajuk buku pantau itu. Di dalamnya ada kolom-kolom berisi berbagai kegiatan yang dilakukan dalam sehari. Ada 23 poin. Mulai dari amalan wajib seperti sholat 5 waktu, amalan sunah, hingga kegiatan sehari-hari semacam mandi pagi/sore, sarapan, dan tidur siang. Setiap selesai melakukan satu kegiatan, tinggal membubuhkan tanda centang pada kolom terkait. Makanya, di rumah, buku ini kami sebut sebagai buku centang-centang.

Lanjutkan membaca “Buku Centang-centang”

Filter

Saya jarang sekali selfi. Malu. Apalagi pake filter kaya gini 🙈

Alhamdulillah, teknologi sekarang luar biasa. Padahal wajah ini aslinya penuh dengan jejak matahari aka bintik hitam. Maklum, dulu ga ngerti caranya merawat muka. Berkat filter hape, semua sirna tak terlihat.

Saat berterimakasih pada filter hape yg menutupi noda-noda dari wajah, jangan lupa bersyukur kepada Allah yg sudah menutupi dosa-dosa kita dari pandangan manusia. 🙏

Lanjutkan membaca “Filter”

Ilmu Singkong

Tahun 2020. Dan saya masih main beginian sama si bontot. 😁

Gelang (asline mau bikin kalung, tapi ternyata kurang panjang😅) dari batang daun singkong

Ketiga kakaknya dulu sekolah di TK PGRI dekat rumah. Saya ingat, ada materi membuat kerajinan seperti ini ketika tema tanaman. Namun yang namanya pelajaran, kalau tidak dipraktikkan lagi, sudah itu ya lupa. Mbak N ketika saya sodorkan daun singkong lagi, benar-benar lupa bagaimana mulainya. Beda dengan anak jaman dulu. Karena sering sekali membuatnya, jadi seperti hapal di luar kepala. Padahal ya tidak ada yang mengajari.

Begitulah ilmu. Jika tidak diamalkan, jadi menguap begitu saja. 😬

Purple

Dulu, rumah di gang kelinci kami sebut “rumah ungu”. Itu karena tembok depannya kami cat dengan warna ungu muda. Sebenarnya ungu bukan warna favorit saya. Hanya ingin tampil beda dari rumah sekeliling saja, jadi saya pilih warna itu.

Sekarang, rumah di kaki gunung kawi ini kami sebut “rumah sawah”. Itu karena rumah ini dikelilingi sawah di depan, samping kiri, dan di belakang (Sebelah kanan adalah rumah kosong). Namun entah kenapa, rumah ini berjodoh sekali dengan tanaman berwarna ungu. Pokoknya kalau mengandung unsur warna ungu, dia akan tumbuh subur sekali. Beda dengan warna lain yang sepertinya harus mati-matian berjuang melawan terik matahari dan ganasnya jamur akar yang mengular di dalam tanah. Dan inilah deretan tanaman bernuansa ungu yang ditakdirkan Alloh hidup di sini.

Lanjutkan membaca “Purple”

Kotak Monster

Kadang-kadang, saya merasa bersalah pada Dek C. Di usia 3 tahun, seharusnya dia mendapat stimulasi yang banyak seperti kakak-kakaknya dulu. Namun dengan kondisi school from home seperti ini, membuat perhatian saya habis tercurah untuk sekolah kakak-kakaknya. Ini kemarin kok tiba-tiba insyaf dan balik mbikinin sesuatu untuk belajarnya Dek C. Sementara kakak-kakaknya biarkan belajar sendiri untuk ujian tengah semester. 😬

Lanjutkan membaca “Kotak Monster”

Hobi Si Anak Gadis

Sebagai mantan anak kota, ketika pertama kali tiba di desa, mbak N benar-benar tidak mau menjejakkan kaki di pekarangan rumah uti. Bau, katanya. Ini karena Uti memelihara beberapa ekor ayam kampung di belakang rumah.

Begitu pindah ke rumah sawah ini, sebagai umumnya adat di sini, saya dibawain Uti seekor ayam babon beserta anak-anaknya. Sejak itulah saya resmi memelihara ayam sendiri. Kandang ayam terletak di pojok barat belakang rumah, berkumpul dengan kandang Poppy si kelinci.

Lanjutkan membaca “Hobi Si Anak Gadis”

Drama Redmi

Hape saya sejak tahun 2018, Redmi Note 7. Anakan dari Xiomi. Kemarin setelah selesai update sistem, tetiba layarnya menjadi hitam putih. Mak deg! Baru saja kemarin mbak N ngrasani hape ini. Biasanya barang kalo habis dirasani, suka berulah! Kata mbak N, hape saya udah jalan 2 tahun. Memang rata-rata hape saya hanya bertahan 2 tahunan. Tapi ya Allah, saya belum mau ganti hape… Jangan sekarang… Ga ada budget buat beli-beli barang kaya gini…😭

Lanjutkan membaca “Drama Redmi”

Drama Tanduk Sapi

Sekitar 4 hari lalu, kak Z menyodorkan boneka sapinya ke saya. “Tanduknya lepas, ummi,” katanya. Saya pun berjanji akan segera menjahit tanduk si sapi. FYI, boneka sapi itu adalah boneka yang paling dia sayangi sedari kecil. Sampai-sampai dia menciptakan lagu khusus untuk si sapi. “Pi pi zal.. pi pi zal.. pi pi pi pi zal zal zal”, dinyanyikan dengan nada peek-a-boo☺️. Bahkan ketika suatu kali boneka itu tertinggal di rumah kenalan mbah kung, mbah kung sampai harus balik ke rumah temannya itu untuk mengambil si sapi.

Lanjutkan membaca “Drama Tanduk Sapi”